Data dari WHO menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kasus terbanyak untuk flu burung atau Avian Influenza yaitu 99 kasus dengan 79 kematian. Selain itu, masih bersumber dari data WHO hingga Agustus 2011, di Indonesia juga masih ditemukan beberapa penyakit mematikan lainnya yaitu, Difteri sebanyak 385 kasus, Campak 16529 kasus, Rubella 1308 kasus, dan Tetanus 137 kasus.
Semua penyakit tersebut sebenarnya bisa diatasi dengan vaksinasi, namun terbersitkah di kepala kita siapa yang membuat vaksin tersebut? Indonesia ternyata memilikinya, yaitu PT. Bio Farma (Persero), sebuah Badan Usaha Miliki Negara yang berlokasi di Bandung.
Perusahaan vaksin yang berdiri sejak tahun 1890 ini sudah mendapatkan berbagai sertifikasi yang menjamin bahwa produknya aman, selain itu perusahaan yang pada tanggal 6 Agustus kemarin genap berusia 121 tahun ini juga telah mendapatkan prekualifikasi dari badan kesehatan dunia (WHO) sehingga dapat memasarkan produknya ke negara-negara di berbagai belahan dunia.
Selain memproduksi vaksin untuk imunisasi dasar (BCG, Polio, Campak, dan DTP-HB), berdasarkan keterangan yang pernah diberikan oleh Dirut Bio Farma, perusahaan ini juga tengah bersiap untuk meluncurkan produk baru seperti vaksin influensa.
Vaksin influensa nantinya harus diberikan setiap tahun, dari literatur diketahui bahwa virus influensa sangat cepat sekali mengalami mutasi menjadi strain yang berbeda. Untuk itu maka pemberian vaksin diberikan satu kali dalam setahun untuk strain yang berbeda.
Kasus Flu burung saat ini sudah jarang ditemukan lagi menyerang manusia, akan tetapi tidak menentunya cuaca akibat semakin rusaknya lingkungan, bukan tidak mungkin dapat memunculkan virus flu yang lebih ganas.
Pertanyaannya, siapkah kita menghadapi kemunculan virus flu yang lebih ganas? Keberhasilan Bio Farma dalam memproduksi vaksin influensa, merupakan pijakan awal untuk memproduksi vaksin Flu burung atau Flu babi. Teknologinya sama, sehingga tidak terlalu sulit untuk alih produksi dari vaksin influensa ke Flu burung atau Flu babi.
Untuk itu maka kekuatan sumber daya manusia di Bio Farma harus lebih ditingkatkan, peningkatan ini dilakukan dengan memberikan beasiswa pada karyawan, serta kerja sama riset dengan lembaga yang ada di dalam dan luar negri, begitu keterangan yang diperoleh dari Dirut Bio Farma
Rotavirus, typhoid, HIV, dan Polio injeksi bukan tidak mungkin juga dapat kita produksi sendiri, risetnya sedang berjalan, dan suatu keniscayaan dalam tiga sampai empat tahun lagi produk vaksinnya akan beredar.
Menjadi raksasa vaksin Asia bukanlah suatu kemustahilan, kerja sama seluruh pihak dan dukungan pemerintah sangatlah penting, peran serta perguruan tinggi dan lembaga penelitian dalam dan luar negeri perlu lebih dilibatkan. Dukungan dari rakyat Indonesia adalah dengan menggunakan vaksin produksi dalam negeri, maka sebelum diimunisasi lihatlah label vaksinnya, apakah vaksin tersebut dari Bio Farma?